Pembatas Jalan Diperlukan Untuk Meminimalisir Kecelakaan

Pembatas Jalan Diperlukan Untuk Meminimalisir Kecelakaan

Tujuh pesepeda ditabrak mobil Avanza di jalan Sudirman, Jakarta, Sabtu (28/12). Saat kejadian, penabrak Toto Prasetio (43) jadi sorotan bahwa dirinya hilang kendali karena pada mulanya mengkonsumsi ekstasi.

Pembatas Jalan Diperlukan Untuk Meminimalisir Kecelakaan

Berkaca dari segi keselamatan jalan, perlukah jalan sepeda yang menyatu bersama dengan kendaraan bermotor dibuat pembatas? Kondisi jalan Sudirman sesungguhnya waktu ini tidak ada jalan pemisah antara kendaraan bermotor bersama dengan sepeda.

“Inilah risikonya jikalau jalan non motorized tidak diberikan pagar pembatas fisik bersama dengan jalan kendaraan bermotor,” kata Djoko kepada com melalui pesan singkat, Sabtu (28/12/2019).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta waktu ini tengah gencar membangun jalan sepeda. Bahkan tergetnya, th. ini Jakarta mempunyai jalan selama 63 km. Beberapa jalan lain di Jakarta udah terkandung sinyal batasan berupa garis atau traffic cone.

Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 03/PRT/M/2014 mengenai Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan udah sesuaikan ukuran jalan bagi pesepeda.

Merujuk keputusan tersebut, kata Djoko, jalan bagi pesepeda mempunyai lebar maksimal tiga meter atau mempunyai perbandingan lebar jalan pejalan kaki dan lebar area bersepeda 1:1,5.

“Pada umumnya, kecepatan bersepeda adalah 10-20 kilometer per jam. Bila kecepatan minimum yang diinginkan lebih 20 kilometer per jam, maka lebar jalan dapat diperlebar 0,6-1 meter bersama dengan tidak mengganggu pejalan kaki,” katanya.

Perwakilan dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) selamanya mengusulkan ada pembatas jalan yang lebih aman.

“Kalau cuma dibatasi warna, lantas termasuk cuma cone termasuk tidak ada edukasi. Tapi jikalau diniat layaknya jalan Transjakarta ada pembatas tinggi itu memahami dilarang. Saat ini kita kan kesusahan berbeda bersama dengan (pengendara) intelektualitas baik, tanpa pembatas pun tentu tidak dapat dilewati,” kata Wakil Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia, Deddy Herlambang beberapa waktu yang lalu.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *